Rabu, 20 April 2011
Semua orang nampak cemas. Ada kaeng, anto mama dari Makassar, mama iyang, Papa Iyang. Aku trus ngajak aku ngobrol dan aku mendengar doanya terus menerus pada Allah yang menciptakan kami, supaya aku selamat dan sehat tanpa cacat. Meski Ammi tampak pasrah dan lemas di atas ranjang roda dibawa ke ruang operasi, tapi saya yang masih dalam perut mendengar betapa doa dan dzikir yang tak putus terucap dari bathin ammi. Dan hanya aku dan Allah yang saat itu yang bisa merasakan dan mendengarnya. Ya Allah, selamatkanlah kami dan buatlah kehadiranku membahagiakan dan memberi kecerahan bagi semua orang yang menantikanku di luar sana.
Ammi masuk Rumah sakit sejak kemarin trus langsung dipasangin keteter yang bikin ammi keki setengah mati dan suster pada diomelin. Apalagi pas dipasang, ammi lagi kebelet pengen pipis, jadinya ammi pengen pipis terus dan tekanan darahnya naik turun. Ini bikin ammi jadi berkurang amunisi untuk dioprasi, malah sempat kepikiran mau dibatalin aja. T api mengingat Corrie sedang berjuang di dalam dengan ketuban yang sedikit dan kurang makan, ammi ngalah dan milih meneruskan rencana operasi ‘Sectio Caesar’ yang disarankan Dokter Ferry.
Di ruang observasi, Ammi mulai batuk lagi. Mungkin rasa cemas ditambah posisi telentang tanpa bantal membuat asthma-nya kambuh. Posisi telentang dengan perut gede, batuk yang sudah ada sejak awal aku tumbuh di perut melengkapi kesakitan dan kecemasan ammi. Ini kehamilan pertama buat ammi, pengalaman pertama dipoerasi caesar dan aku tau banget itu sangat menyakitkan ammi yang sebenarnya berharap bisa melahirkan secara normal. Tapi ketakutan aka keselamatanku jauh lebih besar, sehingga Ammi bertahan dan menguatkan hati untuk menjalani operasi caesar yang konon sangat menyakitkan itu. Kaeng gak kalah cemas, tapi gak mau nunjukin ke ammi, takut ammi makin cemas. Kaeng trus aja merayu ammi supaya sabar. Padahal Corrie tau, Kaeng juga takut ngebayangin operasinya.
Pukul 13.40 tepat, aku berteriak kencang banget begitu diangkat dari rahim ammi. Ammi yang dalam keadaan terbius setengah badan merasa agak lega, karena nagisku kencang banget. Kata dokter juga, suaraku gak sebanding tubuhku yang mungil dengan berat 2000 gram alias 2 kilogram dan panjang hanya 45 cm. Waduh, segede kucing doang nih. Saat dibersihin aku dengar ammi dengan suara lemah memanggil dokter. “ Saya mau IMD, dok”, katanya. Ya sejak awal ammi memang wanti wanti pengen IMD. Apalagi sejak gagal melahirkam aku secara normal, ammi gak mau kehilangan momen IMD nya ke aaku. Maklum, ammi dan kaeng punya tekad akan membuat aku jadi anak sehat yang tidak mewarisi sakit sakit yang mereka miliki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar